Monday, 15 August 2011

Fakta Imperialisme modern terhadap Budaya Bangsa Minahasa


Bangsa Minahasa kita kenal memiliki budaya-budaya, kearifan-kearifan luhur dan unggul yang berwujud nilai kebersamaan dan kemanusiaan (mapalus,Tumou-tou, masawang-sawangan, maesaan, matombol-tombolan), kerja keras (tumani, mawale), keberanian dan sikap pejuang, manusia cerdas dan kreatif (tou ngaasan), demokratis (memilih langsung hukum tua), manusia yang kaya nilai luhur dalam tradisi di masing-masing wanua dan berbagai hasil karya dan karsa manusia Minahasa lainnya.

Budaya Minahasa tersebut, sebenarnya menjadi kekuatan torang. Tetapi, jika kita menelisik jauh ke dalam sendi kehidupan Tou Minahasa, kita akan menemukan karakter-karakter yang kontras yang kemudian sangat dominan dalam keminahasaan masa kini.
Sebut saja, sikap individualisme yang kontras dengan semangat mapalus dan tumou-tou, budaya ‘instant’, cari gampang, budaya shortcut atau jalan pintas yang kontras dengan nilai-nilai kerja keras dan sikap sebagai bangsa pejuang. Baku Cungkel yang kontras dengan tradisi matombol-tombolan. Korupsi yang kontras dengan karakter anti papancuri yang mengakar dalam tradisi di hampir semua wanua tempo dulu. Sikap ‘nrimo’ , ABS (Asal Bapak Senang), tidak kritis, yang sangat beda dengan karkater para pendahulu bangsa Minahasa yang sangat kritis dan cerdas, dan karena itu posisi bergaining orang Minahasa menjadi sangat kuat.
Darimana asalnya perubahan budaya dalam komunitas Minahasa tersebut ? Sumbernya adalah berbagai model imperialisme yang dimediasi oleh berbagai faktor diantaranya: struktur dan hegemoni negara (imperialisme negara/struktural), “tarian dan rayuan kata-kata manis” media (imperialisme media), kemajuan bidang teknologi informasi (imperialisme virtual/digital), pengaruh salah didik (imperialisme pedagogik), struktur pendidikan dan kurikulum pendidikan (imperialisme sistem edukasi), imperialisme melalui buku dan bahan bacaan lainnya (imperialisme literatur) dan mungkin bentuk-bentuk imperialisme lainnya yang mempengaruhi budaya kita.
by. Meidy Tinangon

No comments:

Post a Comment

"Menghitung HARI"

Yahoo News: Top Stories